Mengadu Domba ( Namimah )

Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan dan yang menyulut api kebencian serta permusuhan antar sesama manusia.

Allah mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11).

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah, disebutkan, Continue reading

Advertisements

Fiqih Haji : Larangan Dalam Ihram

Ustadz Khalid Syamhudi

Di dalam ihram diharamkan sembilan hal, yaitu:
1. Mencukur rambut, dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةُُ مِّنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

“Dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajib atasnya membayar fidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban.” [Al Baqarah:196]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ka’ab bin Ujrah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

كَانَ بِيْ أَذَى مِنْ رَأْسِيْْْْ فَحُمِلْتُ إِلَى النَّبِيْ وَ اْلقُمَلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجْهِيْ فَقَالَ مَا كُنْتُ أَرَى أَنَّ الْجَهْدَ قَدْ بَلَغَ مِنْكَ مَا أَرَى أَتَجِدُ شَاةً ؟ قُلْتُ لاَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الأَيَةُ.

“Aku mendapatkan gangguan di kepalaku, lalu aku dibawa ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kutu-kutu bertebaran di wajahku, lalu beliau berkata: “Tidak ku-sangka begitu parah apa yang telah menimpamu, apakah kamu mampu mendapatkan kambing? Aku menjawab :”Tidak”, maka turunlah ayat tersebut (Al Baqarah 196)”.

Ibnu Qudamah berkata: “Para ulama telah bersepakat bahwa seorang yang berihram (muhrim) dilarang mengambil rambut kecuali karena udzur (alasan) syar’i”. [1] Continue reading

3 Kiat Menjadi Orang Sukses

images

Meraih sukses sudah diajarkan oleh Islam. Dan ada tiga kunci utama yang memudahkan kita meraih sukses. Sebagaimana disebutkan dalam ayat dan hadits yang akan disebutkan dalam artikel berikut.

1- Bertakwa (Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya) serta tawakkal

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dari Ibnu ‘Abbas, ia menafsirkan ayat “Allah akan mengadakan baginya jalan keluar” yaitu dengan takwa, Allah akan menyelematkannya dari kesulitan di dunia dan akhirat.  (Lihat Tafsir Al Qurthubi, 18: 159). Takwa tentu saja dengan menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Sedangkan tawakkal adalah menyandarkan hati pada Allah dalam usaha diiringi dengan melakukan usaha. Continue reading

Inilah 10 Tuntunan Menuju Sukses dalam Islam

Sukses

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut ini adalah beberapa  tuntunan menuju Sukses dalam Islam, yang bisa penulis rangkum untuk bisa dibagikan kepada teman-teman semua. Tentu saja  poin-poin dibawah yang penulis rangkum belum tercakup secara keseluruhan, tetapi jika dilakukan serta diamalkan Insya Allah akan berefek sangat dahsyat. Sudah banyak bukti dan cerita akan keberhasilan mengamalkan tuntunan ini yang juga sekarang ini sedang dicoba dijalankan serta diamalkan oleh saya sebagai penulis (Mohon doa serta semangatnya dari teman2 sekalian).  Bahkan, meski hanya salah satu yang difokuskan, menurut yang sudah menjalankannya… tetapi hasilnya luar biasa.

Tuntunan Sukses yang kita ingin capai disini, insya Allah adalah  sukses dunia akhirat, selama kita ikhlas. Kuncinya jangan pernah meminta balasan atau berharap kepada selain Allah. Dan niat utama kita adalah beribadah kepada Allah dan karena Allah. Bukan karena harta atau kesuksesan duniawi saja.

Jika kita mengharapkan akhirat, insya Allah dunia akan mengikuti… Continue reading

Arti Sukses Menurut Islam

BACA ALQURAN SUKSES

 

Semua orang ingin sukses, tapi tidak semua orang berhasil sukses. Kenapa? Masalahnya cuma satu: gagal menemukan arti sukses sebenarnya.

Ada orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang sederhana. Akhirnya, ia pun merasa sudah mencapai sukses meski tanpa berbuat apa-apa. Mengalir seperti air apa adanya, begitu katanya.

Ada juga orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang rumit. Akhirnya, ia pun merasa sulit mencapai sukses, ya sudah mau bilang apa? pasrah aja, barangkali sudah takdir, begitu katanya. Continue reading

Tauhid Sebagai Sumber Solusi

Alienasi menurut Eric Fromm sejenis penyakit kejiwaan dimana seseorang  tidak lagi merasa memiliki dirinya sendiri, sebagai pusat dunianya sendiri melainkan terperosok kedalam mekanisme yang sudah tidak lagi mampu dikendalikan. Masyarakat modern merasakan kebingungan, keterasingan dan kesepian karena apa yang dilakukan bukan atas kehendaknya sendiri melainkan adanya kekuatan luar yang tidak diketahuinya menurut perasaan dan akalnya.

 

Karl Marx, menilai akumulasi modal dan alat produksi pada sekelompok elite membuat dunia mengalami kesenjangan sosial yang hanya memunculkan kemiskinan massal sehingga rakyat yang miskin semakin miskin dan yang kaya menjadi kaya. Yang miskin menjadi sangat bergantung pada pemilik modal yang menguasai pusat-pusat produksi dan ekonomi sehingga kebebasan individu untuk memilih pekerjaan sebagai aktualisasi diri tidak mendapatkan tempat yang kondusif.  Penindasan terjadi secara terus menerus mereka bekerja hanya untuk menjaga keberlangsungan hidupnya semata sementara disisi lain pemilik modal memeras dengan seenaknya.

 

Chistropher Lasch menyebutkan bahwa krisis kejiwaan yang menimpa masyarakat kapitalis terutama barat telah menyebabkan mereka kehilangan sense of meaning dalam hidupnya. Continue reading

Catatan I’tikaf 1 : Pengertian I’tikaf

Catatan I’tikaf 1 : Pengertian I’tikaf
19 Juli 2014         pukul 11:34

Adalah Rasulullah SAW apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, selalu menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari Siti ‘Aisyah).

Hadis dari Siti ‘Aisyah tersebut memberi isyarat tentang adanya sunnah Rasul yang khusus dalam menghadapi sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Pada hari-hari itu, Rasul biasa menghidupkan malam dan mengisinya dengan berbagai macam kegiatan ibadah yang menunjukkan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Rasul juga mengajak istri dan keluarganya serta para sahabat untuk melakukan kegiatan yang sama. Inilah yang disebut dengan kegiatan I’tikaf Asyrul – Awahir.

I’tikaf, seperti dijelaskan didalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 187, adalah berdiam diri di masjid melakukan kegiatan ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Selain itu, dalam beri’tikaf, kita diharapkan melakukan kegiatan muhasabah (introspeksi diri) terhadap hal-hal yang lalu, melihat kekurangan dan kelemahan diri, untuk kemudian berusaha memperbaiki diri, meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Dalam kegiatan i’tikaf ini diharapkan ada dialog internal dengan diri sendiri secara intensif, ada proses pengenalan diri dan penyadaran diri secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya, masihkah kita secara konsisten menjadi hamba Allah SWT, atau telah bergeser menjadi hamba perut, hamba seksual, hamba materi, hamba kedudukan atau jabatan? Continue reading

Catatan I’tikaf 2

Catatan I’tikaf 2
19 Juli 2014       pukul 11:30

Catatan I’tikaf ku

The Propehet Said : God bestowed me Nine Commandments,

and I am commanding you to obey them :

1. He commanded me with sincerity in private and public,

2. With justice during happiness or anger,

3. With moderation during richness or poverty

4. That I shall forgive those who inflicted injustice upon me,

5. That I shall give those who denied me,

6. That I shall visit those who boycott me,

7. And that my silence shall be contemplation,

8. My speaking shall be remembrance (of Allah),

9. And my seeing (thing) shall be lessons. Continue reading

Catatan I’tikaf 3 : Manfaat Dzikir

Catatan I’tikaf 3 : Manfaat Dzikir
19 Juli 2014           pukul 11:13

MANFAAT DZIKIR

MENURUT IBNUL QOYYIM AL JAUZI

1. Membuat Allah ridha

2. Mengusir setan, menundukkan, dan mengenyahkannya

3. Menghilangkan kesedihan dan kemuraman dari hati

4. Mendatangkan kegembiraan & kesenangan di dalam hati

5. Menguatkan hati dan badan

6. Membuat hati dan wajah berseri

7. Melapangkan rizki

8. Menimbulkan rasa percaya diri dan kharisma

9. Menumbuhkan rasa cinta pada Islam, menjadi inti agama, poros kebahagiaan dan

keselamatan

10. Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi sehingga mendorongnya untuk

selalu berbuat bajik Continue reading

Catatan I’tikaf 4 : Bahaya Lidah

Catatan I’tikaf 4 : Bahaya Lidah
19 Juli 2014      pukul 10:57

BAHAYA LIDAH

Pendahuluan

Lidah memiliki urgensi yang tinggi, karena lidah dapat membawa seseorang ke surga Allah bila digunakan untuk taat kepada-Nya. Sebaliknya lidah dapat menjerumuskan seseorang ke dalam neraka jika digunakan untuk maksiat kepada Allah.

Sahl bin Sa’id berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang menjamin untukka apa yang ada diantara dua jenggutnya dan dua kakinya maka aku menjamin untuknya surga.” (HR Bukhari).

Dari Barro’ bin ‘Azib, ia berkata, seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah saw seraya berkata, “Tunjukkanlah kepadaku amal perbuatan yang dapat memasukkan diriku ke dalam surga.” Nabi saw bersabda, “Berilah makan orang yang lapar, berilah minum orang yang haus, perintahkan yang ma’ruf dan cegahlah yang munkar. Jika kamu tidak sanggup maka tahanlah lidahmu kecuali dari kebaikan.” (HR Ibnu Abid Dunya dengan sanad jayyid).

Allah swt berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat yang ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa’ :114). Continue reading